Sholat Tarawih dipersingkat di dua masjid suci di Saudi

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz pada hari Minggu memerintahkan untuk mempersingkat sholat Tarawih (sholat malam khusus) di Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah,
Perintah tersebut berlaku untuk sholat di Masjid al-Haram di Mekah dan di Masjid al-Nabawi Keutamaan Raudhah di Madinah. Dalam konteks COVID-19, raja memerintahkan agar shalat malam selama Ramadhan, termasuk Isya, Tarawih dan Qyam akan digabungkan dan tidak akan melebihi 30 menit di semua masjid di seluruh Kerajaan. Sholat tarawih akan dikurangi menjadi 10, bukan 20 rakaat biasa, dengan tujuan meminimalkan waktu sholat.
Kepresidenan Urusan Dua Masjid Suci Kerajaan, Sheikh Abdul Rahman Al Sudais, yang bertanggung jawab atas masjid di Makkah dan Madinah, membuat pengumuman ini. Dia menambahkan bahwa keputusan itu diambil dengan mempertimbangkan kesehatan dan keselamatan umat dalam konteks COVID-19.

Sebelumnya, panitia penampakan bulan Kerajaan Arab Saudi mengumumkan bahwa puasa pertama bulan Ramzan akan jatuh pada hari Selasa, 13 April, sedangkan Tarawih akan dimulai pada 12 April setelah shalat Isya.
Fasilitas yang luas untuk peziarah
Pemerintah Saudi berusaha menyediakan fasilitas ibadah bagi sebanyak mungkin orang percaya sesuai dengan semua standar internasional.
Raja Salman dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman secara teratur meninjau fasilitas yang tersedia untuk peziarah yang tiba di Makkah dan Madinah.
Sheikh Abdul Rahman Al Sudais, yang juga Imam Masjidil Haram, mengatakan bahwa pihak berwenang telah membuat semua pengaturan yang memungkinkan bagi jamaah yang tiba di Mekah sebagai tamu Allah.

Larangan itikaf dan pesta buka puasa
Hanya jamaah dan jamaah umrah yang divaksinasi dan diimunisasi yang diizinkan di masjid di Makkah dan Madinah, tetapi itikaf dilarang menghabiskan waktu di masjid penuh waktu setelah COVID-19.

Demikian pula, makan malam buka puasa dilarang di kedua masjid untuk mencegah penyebaran penyakit. Karena kekhawatiran wabah COVID-19, penduduk lokal dan ekspatriat tidak diizinkan untuk melakukan umrah dan melakukan sholat, termasuk tarawih, di masjid selama Ramadhan tahun lalu.
Pada saat yang sama, kapasitas Masjidil Haram telah ditingkatkan menjadi satu lakh tahun ini untuk memungkinkan lebih banyak orang melakukan umrah sekaligus menjaga jarak sosial.

Menteri Urusan Islam, panggilan dan bimbingan Syekh Dr. Abdullatif Al-Sheikh mengarahkan karyawan masjid dan jamaah untuk mengambil semua tindakan pencegahan ketika mereka pergi ke masjid seperti membawa sajadah khusus, memakai topeng, dan menjaga jarak fisik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *